Oleh: Paroki St. Antonius Hayam Wuruk | Maret 27, 2010

Minggu Palma

Minggu Palma membuka Pekan suci. Dalam pekan ini Gereja merayakan misteri penyelamatan yang dilaksanakan Yesus pada hari-hari terakhir hidup-Nya di dunia. Pekan suci yang dimulai pada hari ini (Minggu Sengsara-Minggu Palma) yang menghubungkan perayaan Kristus Raja dengan pewartaan Sengsara-Nya. Pada hari ini pengaitan kedua aspek Misteri Paska ini harus menjadi jelas dalam perayaan dan katekese (SP 28, CE 263)

Perayaan Minggu Palma mengenangkan Peristiwa Yesus masuk kota Yerusalem secara meriah, dan juga mengenangkan sengsara-Nya. Penyambutan Kristus sebagai raja dilaksanakan lewat pemberkatan dan perarakan palam. Misteri kesengsaraan Kristus dikenangkan lewat perayaan Ekaristi yang secara mencolok menampilkan sengsara Kristus.a

Ibadat Minggu Palma terdiri atas dua bagian pokok: Upacara Perarakan Palma dan Perayaan Ekaristi. Ibadat dimulai di luar Gereja. Umat berkumpul di tempat yang sudah ditentukan, masing-masing memegang daun palma. Imam dan para pelayan datang ke tempat umat berhimpun. Sementara itu umat melagukan nyanyian pembukaan berikut atau nyanyian lain yang sesuai.

Apa makna perayaan ini bagi kita? Pertama, Yesus adalah Raja Damai. Yesus memasuki kota dengan naik keledai, binatang tradisional. Dialah raja yang rendah hati dan cinta damai (Mat 11:29). Rakyat menyambut putera Daud sesuai adat kebiasaan mereka (2raj 9:13). Putera dan Puteri Ibrani membawa ranting dedaunan dengan sorak-sorai, melambai-lambaikan menyambut Tuhan, “Hossan Putera Daud, terpujilah yang datang atas nama Tuhan” (Mzm 117: 25).

Kedua, pralambang kedatangan zaman Mesia. Yesus, Raja Kebenaran datang ke Yerusalem untuk menyempurnakan tugas perutusan menyelamatkan manusia sampai pada penghabisan. Inilah pralambang kedatangan Yesus dengan jaya pada akhir zaman.

Ketiga, peringatan bagi pemimpin/penguasa. Peristiwa ini juga dapat menjadi peringatan khusus bagi semua pemimpin di dunia ini, baik pemimpin politik maupun keagamaan. Jabatan yang diraih dapat menjadi suatu kebanggaan karena sering disanjung dan dieluk-elukkan oleh para pendukung. Tetapi mereka perlu waspada bahwa bisa terjadi justru orang-orang (para pendukung) yang sama itu akan meneriakkan hujutan, makian bahkan teriakan pembinasaan.

Hari ini menjadi hari refleksi yang mendalam atas segala tindak-tanduk kita. Salib yang diangap kebodohan dan kekonyolan telah menjadi tanda kemenangan. Kita makin sadar bahwa “Tiada kemuliaan tanpa salib penderitaan. Tiada kebangkitan tanpa kematian.” Mari kita selalu waspada, jangan sampai lengah karena sanjungan dan pujian. Kemuliaan kekal itu mesti melalui perjuangan yang keras.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: