Oleh: Paroki St. Antonius Hayam Wuruk | Mei 8, 2010

Hari Minggu Paskah VI

hai orang-orang saleh, bersoraklah gembira karena apa yang telah dilakukan Tuhan; patutlah orang jujur memuji-muji. Mzm 33:1

Pace E Bene

Salam Damai dan Kebenaran untuk kita semua.

Sudah hampir tak terasa satu bulan saya tidak menulis kembali renungan dalam blog ini. Namun,  keinginnan hati tetap ada dalam memberikan suatu bentuk kata2 motivasi atau arahan agar semua umat Katolik lebih beriman dan tetap setia pada imannya.

Tak terasa kita memasuki Minggu Paskah yang ke-6, minggu dimana Yesus secara pribadi menekankan pentingnya mengasihi Yesus, “yang mengasihi Aku, ia akan menuruti Firman-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yoh 14) Yesus mulai bertanya apakah kamu sekalian mengasihi Dia?

Saudara/i adakah keraguan dalam hati kita untuk mengasihi Dia? Akan kah kita di selamatkan?

Sesuai dengan sabda Yesus pada hari ini dengan menyapa kita penuh kehangatan “Damai Sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera Kuberikan kepadamu, dan yang kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” Pantaslah kita mulai berkata aku mengasihi-Mu Tuhan sama seperti aku mengasihi diriku sendiri.

Dalam Kisah Para Rasul pada bacaan hari ini dikisahkan bagaimana Paulus dan Barnabas berusaha meneguh iman orang yang akan di utus serta memberikan suatu maksud dari perkataan Yesus bahwa mereka semua harus mampu untuk menghalau segala macam bentuk hal yang menggelisahkan dan menggoyangkan iman mereka. “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kamu jangan ditangguhkan lebih banyak beban daripada yang perlu, yakni: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati di cekik dan dari percabulan.

Saudara-saudari yang terkasih,

Ada seorang pengusaha yang sangat sukses. Ia bisa meraih apa saya yang ia inginkan. Sejak muda ia bekerja keras. Ketika teman-temannya belum bangun ia  telah berangkat bekerja. Tatkala yang lain sudah berangkat tidur ia baru pulang bekerja. Ia sungguh sukses. Namun ia kehilangan sesuatu. Ada sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uangnya yang banyak: Memeluk anak-anaknya, mengajak mereka jalan-jalan, melihat tingkah polah dan kenakalan anak-anaknya, semuanya itu terlewatkan dalam hidupnya.

Sekarang anak-anaknya beranjak dewasa. Ia telah melewatkan satu bagian terindah yang dianugerahkan Tuhan padanya, yaitu mendampingi anak-anaknya tumbuh besar. Ia sibuk dengan mencari uang.

Sekarang pengusaha itu hanya bisa meneteskan air mata kalau melihat suami isteri repot dengan anak-anaknya pergi ke Gereja. Masa kecil anak-anaknya tidak pernah kembali lagi. Ia memang memberi mereka banyak uang, tetapi tidak pernah memberikan dirinya untuk anak-anaknya.

Saudara-saudari terkasih.

Tuhan menganugerahkan damai itu dalam diri kita, dalam keluarga kita. Janganlah kita sibuk dengan sesuatu yang mudah hilang. Tuhan menaruh damai itu dalam hati, ia tidak bisa diganti dengan setumpuk materi. Syukurilah yang Tuhan beri. Niscaya damai itu takkan lari.

Tuhan Memberkati!  (fra)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: