Oleh: Paroki St. Antonius Hayam Wuruk | Agustus 6, 2010

Renungan Untuk Minggu Biasa ke XIX

“Bersiaplah menolong kami, bebaskanlah kami karena kasih setia-Mu!”

Hari ini Yesus meneruskan pembinaan murid-murid-Nya yang telah diawali dengan peringatan, “Waspadalah terhadap ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan.” (Luk 12:1). Orang Farisi adalah munafik sebab mereka memanfaatkan Hukum Taurat dan perarutan agama untuk mencari uang, kuasa dan gengsi, bukan untuk menghormati Allah dan untuk melayani masyarakat (Mrk 7:8).

Murid-murid Yesus harus menjadi manusia yang membangun pribadinya dengan berbagi apa yang mereka miliki, membasuh kaki satu sama lain dalam persaudaraan, dan berani dicap sebagai orang yang tidak signifikan dan yang berpihak kepada yang terkecil dalam masyarakat.

Mereka ditempatkan oleh Yesus dalam masyarakat sebagai ragi untuk menetralisir logika kemunafikkan yang bertumpu pada uang, kuasa dan gengsi, atau dengan kata penginjil, mengubah masyarakat menjadi Kerajaan Allah.

Yesus mau melihat murid-murid-Nya sibuk menerapkan ajaran-Nya menjadi kenyataan itu melelahkan. Maka Yesus datang, Ia mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, Ia melayani mereka. Yesus melakukan itu sekarang dalam Perjamuan Ekaristi.

Yesus memanggil murid-murid-Nya juga secara yang tidaka disangkakan, seperti dalam diri orang yang baru keluar dari penjara dan membutuhkan pekerjaan, dalam diri seorang anggota keluarga kita yang telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji dan membutuhkan perhatiaan khusus.

Mengikuti Yesus terkait erat dengan sikap menantikan. Yesus menyebut hamba-hamba yang setia menantikan kedatangan Tuan mereka, sebagai manusia bahagia. “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.” (Luk 12:37). Namun benarkah menunggu itu membahagiakan?

Menantikan sesuatu tanpa kepastian memang membosankan. Terlebih lagi bila yang kita tunggu ternyata tidak memenuhi janjinya. Syukurlah, Tuhan Yesus meyakinkan bahwa Allah itu selalu setia menepati janji-Nya. Kesabaran kita sering diuji saat kita menantikan pemenuhan janji-Nya. Semangat bisa kendor dan nyali mungkin saja menyusut. Tapi kita tidak usah takut, karena Yesus menyemangati kita supaya kita mengikat pinggang lebih kencang dan selalu menyalakan pelita (Luk 1:35).

Kita tidak sendirian menunggu. Yesus selalu menyertai kita kapan Dia datang, tak seorangpun mengetahuinya. Tugas kita hanyalah bersiap dan berjaga-jaga. Tuahn saja selalu sabar terhadap kita, mengapa kita tidak sabar menunggu-Nya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: