Oleh: Paroki St. Antonius Hayam Wuruk | Mei 19, 2012

Bukan dari Dunia

Selamat Hari Raya Minggu Paskah VII (Hari Komunikasi Sedunia).
Hari ini kita merenungkan doa Yesus bagi murid-murid-Nya. Doa Yesus ini bukan hanya merupakan penghiburan bagi kita bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita, tetapi juga suatu tugas perutusan bagi kia. Kita diutus melanjutkan misi Yesus di dunia ini, yaitu menyatukan dunia yang tercerai berai akibat kebencian, iri hati, dendam dan sebagianya. Ini adalah tugas yang tidak mudah. Karena kita adalah milik Bapa dan kita bukan dari dunia ini, maka kalau kita melakukan apa yang baik dan benar, dunia pasti akan membenci kita. Sebab itu Yesus meminta agar Bapa memelihara kita dalam-Nya, melindungi kita dari yang jahat dan menguduskan kita dalam kebenaran (Yoh 17:11.15.19).
Sejak Konsili Vatikan II, Gereja sudah semakin terbuka terhadap dunia di luar dirinya. Diakui bahwa kekudusan juga ada di luar Gereja Katolik. Karena itu, Gereja berharap agar umat manusia “menjadi satu” sama seperti Yesus dan Bapa adalah satu (ay. 11).
Yesus berdoa agar kita tidak lari dari kenyataan dan tantangan-tantangan di dunia ini, tetapi berani menghadapi dan memberi kesaksian tentang kebenaran. Itulah sebabnya, kita tidak perlu takut karena Yesus selalu berdoa untuk kita yang berjuang untuk mendamaikan dunia yang terpecah belah karena sikap egois dan individualis.
Kita bukan dari dunia ini, tetapi berasal dari Bapa. Kita diutus ke dalam dunia untuk menguduskan dan menjadi kudus sebagaimana yang Dia kehendaki (bdk 1Tes 4:3). Menurut Konsili Vatikan II, kekudusan bukan hanya milik umat Kristen, tetapi semua orang bisa menjadi kudus asalkan mereka mau hidup dalam kebenaran; dan kebenaran itu ada di dalam hati nurani mereka.
Agar dapat menjalankan tugas tersebut, kita mesti memiliki hati nurani yang jernih dan cara pandang terhadap sesama yang dikuasai oleh cinta dan bukan oleh sikap curiga. Perjuangan kita ini tidak pernah boleh berhenti. Pertama, karena dunia yang kita tempati ini akan selalu menggoda kita untuk menyeret kita keluar dari kebenaran. Kedua, jika Yesus selalu berdoa kepada Bapa untuk kekudusan kita, mengapa kita tidak berdoa dan meminta kekudusan bagi sesama? Inilah perjuangan kita, yang bukan dari dunia ini namun masih tinggal di dunia ini. (Cafe Rohani 20 Mei 2012)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: