Muda-Mudi Katolik

Responses

  1. ini pace e bene ketika mengisi acara di sidikalang tepatnya lae tanggiang

  2. Hai..nama saya imes. saya sedikit mau sharing nih….
    Awal pindah ke Medan, sebelum kuliah, saya dibawa oleh kakak gereja di Gereja Hayamwuruk (banyak yg sebut begitu). belakangan saya tahu ternyata nama gerejanya St. Antonius dari Padua Hayamwuruk. Dulu gerejanya masih dibelakang (sekarang menjadi aula gereja). saya suka dengan gerejanya selain tergolong besar juga karena artistik didalamnya. dan lagi di kota asal saya, gerejanya stasi jadi masih kecil dan seadanya saja, namun tetap berciri khas Katolik, bangunan batu bata merah.

    setelah beberapa tahun kemudian, gereja mengalami pembangunan, persis dibangun di depan gereja yang lama. bangunannya dibuat lebih besar, tinggi dan bergaya artistik ala gereja di Roma. selama proses pembangunan saya pernah masuk kedalamnya, walau masih kosong isinya saya sangat terkesan dengan bagian dalam gereja.

    dan sampai saat ini, gereja sudah selesai dalam masa pembangunan, dan sudah berselang beberapa tahun sejak diresmikan (sayang saya tidak ikut peresmiannya). kapasitas daya tampung gereja semakin besar dan umat lebih banyak, namun tetap tidak mampu menampung semua umat bila perayaan Misa dilakukan hanya sekali saja. perayaan Misa tetap dilakukan tiga kali dalam sehari.

    saya sangat suka gereja di St Antonius ini, pertama. bila saya sudah duduk didalam rasanya aman, nyaman, karena nilai-nilai dan benda-benda artistik yang didalam gereja membuat seperti ada diantara para malaikat Tuhan. kedua. suasana hening yang tercipta serta keadaan lingkungan sekitar: seperti para misdinar (putra putri altar) yang selalu menghormati altar, tidak terlalu bising degan jalan raya, sehingga suasana perayaan Misa berjalan khidmat. meski kadang ada yang mengatakan tata peribadatan Misa monoton, tapi itu bagi yang tidak mengerti serta tidak mencintai Liturgi. ketiga. musik liturginya, dalam bidang musik liturgi St Antonius bisa menjadi panutan bagi gereja-gereja lain, khusunya gereja stasi. memang mungkin karena gereja paroki, petugas liturgi harus dipersiapkan dan dilatih, serta orang-orang yang terlatih biasanya dipakai menjadi petugas Liturgi (mis: Dirigen, pemazmur, Organist, Bacaan I dan II, doa permohonan terlebih Paduan suara)tapi memang harus demikian karena dengan demikian musik liturgi menjadi lebih terarah dan semangat. sehingga semuanya membawa kemuliaan bagi Tuhan dan menambah keimanan bagi umat. pernah juga, beberapa kali Misa, ordinarium yg dipakai ordinarium gregorian, (asli waktu pertama kali sama sekali tidak nyanyi, bingung, aneh, jadi hanya mendengar saja, tapi lama-lama sudah terbiasa).masih ada banyak hal lagi yang membuat saya lebih memilih merayakan misa pada hari minggu di St Antonius.

    Kalau menurut saya, selama saya mengikuti peraayaan Misa di St Antonius Hayamwuruk, umatnya sangat beragam, ada dari berbagai golongan dan suku. ada Batak, Karo, simalungun, Nias, Cina, India, Jawa, pernah juga pernah ada arang kulit putih (tapi mungkin pengunjung), ini menurut penulis memang umat gereja, karena pernah menjadi petugas Liturgi. kalau mau melihat golongan atas, menengah, dan bawah, bisa dilihat dari lapangan parkir Gereja yang luas, banyak berjejer mobil, sepeda motor, dan yang lainnya antri menunggu di depan Gereja ada becak, angkot. beragam golongan dan suku ada dalam gereja, hal ini yang menurut saya kekhasan dan keunikan gereja Hayamwuruk.

    demikian hal yang saya sampaikan. maaf kalau terlalu panjang.
    Terimakasih.

    Email dari Sdri Imes Damanik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: